Total Pageviews

Friday, February 6, 2009

Konsekuensi Logis Kesepuluh

Kalau mengendarai motor dengan kecepatan lebih kurang enam puluh kilometer per jam selama tiga puluh menit sambil membungkuk dan menundukkan badan sehingga menempel pada setang karena menahan perih dan sakit di lambung disebabkan oleh serangan maag akibat terlambat makan sekitar 12 jam maka jangan salahkan bila orang yang melihat menganggap saya sedang bergaya layaknya pembalap beneran.

Padahal ga ada maksud demikian.

Gw harap kalimatnya ga kepanjangan ^_^

Thursday, February 5, 2009

Konsekuensi Logis Kesembilan

"Pemilihan Umum telah memanggil kita, seluruh rakyat menyambut gembira. berdemokrasi Pancasila, kita mensukseskan Pemilihan Umum."

masih inget penggalan lagu propaganda untuk mensukseskan pemilu yang sering berdengung di Televisi saat jaman orde baru ini? lagu ini dimaksudkan untuk menekan angka Golput yang pada tiap pemilu memang cukup tinggi. bahkan, pada pemilu tahun 2004, Golput (23,345) dapat keluar sebagai pemenang Pemilu mengalahkan Golkar (16,54%). diperkirakan pada pemilu tahun 2009 ini perolehan suara Golput akan meningkat. sebuah fenomena yang menarik. sebagai perbandingan, pada pemilu Amerika Serikat tahun 2008 kemarin pun, Obama yang diyakini akan membawa perubahan pun tidak banyak memberikan kontribusi berarti untuk mengurangi jumlah Golput. melihat kenyataan ini, jadi ingin sedikit berkomentar.

Pertama mari kita definisikan Golput. apakah golput itu? Golput, singkatan dari Golongan Putih (kurang menjelaskan kalau cuma segini yaks ^_^), yaitu para pemilih pada pemilihan umum, yang memiliki hak pilih, tetapi memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya. yang perlu dikaji lebih lanjut adalah alasan kenapa mereka melakukan hal ini. alasan logis yang dapat diajukan untuk mendukung tindakan ini adalah ketidakpercayaan terhadap proses pemilu atau pada calon yang akan dipilih pada pemilu.

kita bahas alasan pertama. golput dapat terjadi dengan alasan para pemilih tidak percaya terhadap lembaga yang melaksanakan pemilu. atau bisa kita katakan para pemilih tidak percaya kepada proses pemilu itu sendiri. kasarnya bisa dibilang, percuma aja ikut pemilu, karena pemenangnya udah ketahuan. pemilih golput macam ini contohnya adalah pada saat pemilu Zimbabwe belum lama ini yang memenangkan presiden Robert Mugabe. cerita klasik pemilu jaman orde baru juga bisa menjadi contoh pemilu macam ini.

alasan kedua menyatakan bahwa para pemilih memilih golput karena tidak percaya pada calon yang akan dipilih. golput macam ini banyak contohnya. yang paling baru adalah isue mengenai pihak oposisi di venezuela yang menyatakan akan golput menanggapi berhasilnya Presiden Chavez merevisi UUD Venezuela, sehingga dia dapat mencalonkan kembali menjadi presiden untuk periode berikutnya.

sebenarnya dalam tiap pemilihan umum, kedua tipe golput ini akan ada. tidak mungkin dalam pemilu sebuah negara, para golputers, hanya memiliki satu alasan yang sama. tapi yang ingin saya jadikan pokok pembicaraan pada tulisan kali ini adalah munculnya golongan ketiga Golputers, yang uniknya, muncul di Indonesia. negeri kita tercinta. lalu, macam mana neh, Golputers ketiga ini. sama seperti kedua Golputers di atas, Golputers tipe ini juga dibedakan dari alasan kenapa Golput, yaitu karena tidak tahu mau pilih siapa.

Pada pemilu 2009 ini, terutama pemilu legislatif, seperti yang tidak diketahui oleh banyak orang ^_^, partai politik peserta pemilu berjumlah 38 partai. 16 partai lama dan 18 partai baru, ditambah 4 partai lama tapi baru. yang jujur aja, gw ga apal semuanya. hahaha. pada pemilu tahun ini pun, yang dipilih adalah caleg dari tiap parpol. menurut data KPU untuk calon legislatif untuk DPR berjumlah 11.868 orang. bayangkan banyak banget tuh. gimana ngapalinnya?!

ops, lupa, jumlah sebanyak itu ga akan ada di kertas suara kita kok, karena para caleg sudah dibagi dalam tiap daerah pemilihan. ada 77 daerah pemilihan. rata-rata caleg tiap dapil adalah 11.868 orang dibagi 77 dapil, jadi kira-kira 154 orang tiap dapil. sebagai perbandingan, dapil gw yaitu DKI Jakarta I memiliki 188 caleg. banyak khan tuh.. Gimana nGapalinnya???

ops.. lagi-lagi ada yang lupa. sebenernya akan lebih mudah untuk ngapalinkalo kita sudah menetapkan caleg dari partai mana yang akan kita pilih. di dapil DKI Jakarta I ada 188 Caleg, ada 38 partai, jadi rata-rata ada 4 orang caleg tiap partai.. jadi lebih mudah sich nentuin pilihannya. itupun kalo kita sudah menentukan akan pilih parpol mana.

eits, ada cara yang lebih mudah, yaitu milih caleg yang lo kenal dalam dunia nyata. bisa aja sodara, tetangga, guru SD dulu, ortunya temen, atau siapa kek. jadi pilihan sudah ditentukan, pas pemilu tinggal liat potonya terus nyoblos deh.. tapi cara ini riskan. kita jadi ga kritis. ga tahu kompetensi sebenarnya caleg itu. pun kita kenal deket , jadi tahu lah luar dalem tuh caleg, kalo kita tidak melihat caleg yang lain, jadinya tidak ada pembanding kinerja caleg pilihan kita itu dengan caleg yang lain..

nah, kita sebagai seorang warga negara yang baik, yang kritis juga, pastinya kaan kebingungan tuh milih caleg yang mana yang akan kita coblos nantinya. belum lagi kampanye dari tiap caleg yang tidak efektif.. masih saja menggunakan cara-cara lama yang beitu-beitu saja. pun ada beberapa caleg kreatif yang mengemas cara lamanya menjadi terkesan baru. sebut saja seorang caleg yang membanggakan anaknya yang artis dalam media kampanyenya. lucu khan tuh...

tapi kalau kita ingin benar-benar menjadi warga negara yang baik, maka konsekuensi logis nya adalah kita harus proaktif mencari tahu wakil kita nanti di kursi parlemen.. jadi, pemerintahan yang dibentuk nanti benar-benar merupakan hasil aspirasi kita sebagai rakyat dan warga negara.

PS : bila ingin tahu lebih lanjut tentang daftar calon legislatif buat pemilu nanti, silahkankunjungi link ini. ga ribet kok, datanya disajikan per daerah pemilihan yang cuma ada kira-kira 154 nama caleg dari 38 partai yang dari tiap partai kita bisa memilih satu dari 4 orang calon legoslatif. ga ribet khan ^_^

http://www.caleg-pemilu2009.info/

Wednesday, February 4, 2009

Konsekuensi Logis Kedelapan

Hati-hati buat semua orang yang seringkali meremehkan arti CINTA. terutama buat kaum pria. tidak menutup juga untuk kaum wanita. lebih terutama lagi buat yang sering bermain asmara. terlebih terutama lagi buat yang sering kali mengkhianatinya.

CINTA itu bukan hanya sekedar kata, bukan ungkapan yang dapat selaluu dikatakan. bukan pula sebuah umpan untuk mendapatkan sedikit kesenangan. karena cinta adalah memberi. memberi segala upaya dengan kesiapan penuh akan segala macam konsekuensinya, untuk membahagiakan orang yang kita Cintai. tanpa adanya segala kesiapan dan kesungguhan hati untuk melakukan itu semua, lebih baik janganlah sampai cinta terucap dari bibir kita.

Perlu disadari juga, bahwa apa yang membahagiakan orang yang kita cintai itu belum tentu membahagiakan kita juga. apakah kita siap menerimanya?

Jangan pula dilupakan bahwa mencintai itu bukan berarti selalu memberikan segala macam kesenangan. karena rasa jamu dan obat itu pahit, berarti bisa jadi hal yang kita anggap tidak baik dan menyakiti malah merupakan jalan untuk orang yang kita cintai itu bahagia. bila ini yang terjadi, siapkah kita untuk melakukannya?

Dalam percintaan tak selamanya akan dilalui kesenangan dan keindahan. bila suatu saat orang yang kita cintai itu tidak lagi memberikan kesenangan dan keindahan, apakah perkataan cinta tadi akan tetap bertahan?

CINTA itu memang mudah untuk diucapkan, tapi apakah kita sanggup menanggung konsekuensi logis dari mencintai? bila tidak, telanlah kata-katamu kembali.

*terinspirasi dari notes seorang teman

Monday, February 2, 2009

Konsekuensi Logis Ketujuh

Setibanya di rumah, hal pertama yang gw lakukan setelah mencuci tangan dan kaki serta sikat gigi adalah menyalakan komputer gw yang sudah beberapa lama tidak gw gunakan. Tidak sempat adalah jawaban yang akan gw berikan bila ada yang bertanya kenapa gw jarang pakai komputer belakangan ini. Itupun kalo ada yang nanya, yang gw yakin emang ga ada. Tapi kali ini lain dari biasanya, gw ga mau lagi mengatakan tidak sempat untuk menggunakan benda paling canggih di rumah gw ini. Bahkan kepada diri gw sendiri. Alesannya bukan hal yang besar sich, tapi cukup penting buat gw. Kali ini gw menggunakan komputer untuk nulis notes yang sedang kalian baca ini. Tulisan sederhana, ungkapan hati sebenarnya, tentang kesan dan pesan setelah gw menyaksikan acara Tenda Purnama (Dapur) Fakultas Psikologi 2009. Sebelum gw lupa.

Tenang, gw bukannya mau evaluasi panitia maupun acara. Bukan hak dan kewajiban gw. Pun ada sedikit kejanggalan menyaksikan sedikitnya lulusan yang datang, padahal acara Dapur dimaksudkan untuk merayakan kelulusan para wisadawan. Tapi yasudahlah. Disini gw cuma mau berbagi tentang perbandingan perasaan yang gw rasakan saat gw jadi pengisi acara dan penonton. Saat jadi pengisi acara bersama teman-teman Desperados yang cuma nama, (karena sebenarnya masing-masing dari kami ga ada yang Desperate, bahagia sebenarnya ^_^) gw ngerasa ada sebuah rasa yang kurang. Rasa yang sebenarnya sangat gw harapkan untuk gw rasakan, saat bermain musik. Yang adalah rasa gimanaaaaa gituh. Aduh, susah juga njelasinnya. Hahaha

Daripada gw jelasin malah ga jelas juntrungannya, mendingan gw curhat ajah. Sejujurnya, saat membandingkan perasaan pas tampil tadi dengan perasaan yang gw liat dari penampil lainnya tuh, gw kecewa banget. Tadi tuh temen-temen desperados tampilnya ga semangat, mungkin lebih parah malah ga menikmati. Padahal tujuan main musik khan agar bisa menghibur orang yang denger. Kalo yang main aja ga terhibur, gimana yang denger bisa terhibur?! Masakah berharap orang lain menikmati usik yang kita mainin, tapi kita aja ga nikmatin pas mainin! Konsekuensi Logis kalo mau menikmati saat bermain music adalah bermain dengan sepenuh hati dengan tujuan menghibur orang lain dengan terlebih dahulu menghibur diri sendiri.

Iri banget pas liat Kozi main. Sangat menikmati sekali. Pengen banget kayak gituh. Okeh kalo Kozi dirasa terlalu jauh untuk dijadikan pembanding. Kita tilik Psikusi aja deh. 2 jempol dah buat mereka. Pun ada sedikit kekurangan disana-sini, tapi yang pasti mereka menikmati. Ga jauh beda sama penampil lain yang tadi sempet gw liat. Semua nya bergembira. Kapan kiranya gw bisa kayak mereka.

Memang gw akuin, kemmapuan musik gw pas-pas-an. Tapi gw yakin dan berani jamin, keinginan gw untuk menikmati musik yang gw mainkan ga kalah besar sama mereka semua. Tentunya hal ini harus didukung oleh anggota desperados lainnya. Udah ah, cukup curhatnya. Yang jelas, gw cumamau bilang. Kapan-kapan kita mainkan musik yang menyenangkan. Apapun jenisnya, siapapun penyanyi aslinya, dan kapanpun lagu itu dipopulerkan. Apa ajah gw terima, asal nikmat aja mainnya.

Gimana ma lo semua? Punya keigninan yang sama ma gw ga? Saat desperados tampil lagi pastikan kita menikmati. Gimana???

Ide gw untuk perform desperados berikutnya, tema lagunya KEREN. Kita nyanyiin lagu-lagu yang KEREN dah pokoknya. Kemaren khan udah tuh ngebanyol en ngetawaain diri sendiri. Nah, sekarang saatnya kita unjuk gigi. Hihihihi

Mumpung kita udah cukup eksis di psiko gara-gara penampilan berantakan kita kemaren-kemaren. hehehehe

Konsekuensi Logis Keenam

Kemarenan ada yang nanya gimana perasaan gw melihat orang yg gw sayangi n cintai merajut cinta dan kasih sayang dengan orang lain. gw jawab dengan jelas bahwa gw bahagia, berharap, dan berdoa. bahagia karena melihat dia berbahagia, berharap dia benar-benar bahagia, dan ga lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa.


jawaban yg socially n rasionally desirable ny tinggi. jawaban yg trkesan sengaja disesuaikan dgn jawaban yg ingin didengar oleh lingkungan sosial dan pikiran rasional.. dengan bahasa yg lebih sederhana dapat dikatakan bahwa jawaban gw itu bohong belaka. rasionalisasi biar ga terlalu sakit aja.

ga salah kalo ada yg beranggapan seperti itu. sudah jadi kodratnya manusia kalo akan sakit dan terluka karena tidak tercapai keinginan dan harapannya. gw juga merasakan hal itu. tapi apa kita mau merasakan kesedihan dan kekecewaan terus menerus karena keinginan kita tidak tercapai? apalagi tidak ada yg bisa kita lakukan lagi utk merubah semua itu. jadi, terima sajalah, dan lanjutkan hidup. alasan ini juga bs menjadi alasan atas jawaban gw trhadap pertanyaan yg gw sebutkan di awal. jawaban ini diberikan oleh orang yg sudah berada dalam tahap Learned Helplesness. tahap saat akhirnya kita belajar bahwa tidak ada lagi yg dapat kita lakukan selain menerima keadaan. yap, gw juga pernah berada dalam tahapan ini. jadi wajar aja kalo ada yg curiga akan kebenaran alasan ini.

tapi dengan jujur gw katakan, alasan dari jawaban gw itu bukanlah seperti yg jadi kecurigaan. gw bahagia melihat dia bahagia dengan orang lain adalah karena gw emang sayang ma dia. bukankah makna dari menyayangi dan mencintai adalah membuat orang yg kita sayang dan cintai bahagia?! dan apa salahnya kalau ternyata dia bahagia bukan karena kita?! yap, inilah alasan gw. setidaknya inilah yg gw yakini.

Konsekuensi Logis dari menyayangi dan mencintai seseorang adalah adanya usaha utk membahagiakan orang tersebut. bahkan bila harus meninggalkannya sekalipun.