Monday, October 19, 2009

Konsekuensi Logis Keenambelas

Kecerdasan dan Berbicara (Kecerdasan Berbicara)

Kemarin, bertambah lagi daftar temen yang komplain soal pemahaman terhadap apa yang gw katakan. Menanggapi hal ini, ada dua hipotesis yang gw punya.

Landasan pertama dari hipotesis yang gw buat adalah kenyataan bahwa kemampuan berbicara merupakan indikator dari kecerdasan seseorang. Berbicara, tentu saja merupakan sebuah aktifitas yang membutuhkan kinerja otak. Sebelum berbicara, seseorang tentu perlu memikirkan terlebih dahulu apa yang ingin diucapkan. Kalau kita tidak memikirkan apa yang kita ucapkan, tentu akan mengakibatkan hal yang tidak menyenangkan. Buktinya, saat seseorang merasa tersinggung dengan ucapan seorang lainnya, makian yang paling sering digunakan adalah :
"Makanya, mikir dulu baru ngomong!!!"

Landasan kedua dari hipotesis gw adalah, pemahaman terhadap ucapan dan, atau pembicaraan seseorang juga merupakan indikator dari kecerdasan. Semakin cerdas seseorang, maka ia mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk menghubung-hubungkan simbol, makna, dan ide dari pembicaraan seseorang, sehingga dia dapat dengan mudah memahami pembicaraan orang tersebut. Kurangnya pemahaman terhadap ucapan seseorang juga mengakibatkan hal yang tidak menyenangkan, contohnya adalah makian ini :
"Udah dibilangin berkali-kali juga! Masa ga ngerti juga sih?!"

Nah, dikarenakan pembicaraan merupakan aktifitas interaktif yang melibatkan dua belah pihak, dimana kedua belah pihak tersebut saling bekerja sama untuk mengerti satu-sama-lain, maka kesalahan dalam memahami omongan gw (untuk seterusnya kita anggap Pihak Pertama) bisa jadi memang omongan gw yang sulit dimengerti, atau memang orang yg sedang berbicara dengan gw (kita sebut mereka Pihak Kedua), yang kurang bisa memahami perkataan gw.

Jadi, Hipotesis gw adalah begini :

Pertama : Gw adalah seorang yang cerdas, dengan pemikiran yang di atas rata-rata, sehingga membutuhkan pihak kedua dengan kemanpuan yang lebih kurang sama ma gw untuk memahami perkataan gw.
Kedua : Bukan nya para Pihak kedua yang kurang cerdas, mereka sebenarnya cerdas, tapi memang omongan gw aja yang sulit dimengerti karena tingkat kecerdasan gw yang memang sudah diatas rata-rata sehingga agak-agak beda ma biasanya dalam mengkonstruk sebuah pikiran atau pendapat..

Intinya, mau hipotesis yang mana juga, tetap gw yang ga salah.. hehehe

Ps: yah.. sebenernya ini tulisan merupakan pembenaran dan pembelaan terhadap apa-apa yang gw rasa kekurangan. sejujurnya gw akui, jalan pikiran ini sulit dimengeri, bahkaan oleh diri sendiri. Jadi, maaf yaks ^_^

Monday, May 25, 2009

Konsekuensi Logis Kelimabelas

Pilah-Pilih Presiden

Melanjutkan pembahasan tulisan sebelum ini yang membahas mengenai Neoliberalisme. Paham neoliberalisme sebenarnya sudah cukup lama bercokol di negara tercinta kita ini. Mungkin kita saja yang tidak menyadarinya. Isu ini baru santer terdengar saat SBY menggandeng Boediono untuk maju dalam Pemilihan Presiden tahun 2009 ini. Penulis akui, memang benar akhirnya penulis menyuarakan masalah ini karena dipicu oleh isu tersebut. Tapi bukan berarti penulis baru menggali masalah ini baru-baru ini saja, sudah cukup lama sebenarnya. Penulis hanya memanfaatkan momen untuk menarik perhatian. Tidak ada salahnya bukan?

Dalam komentar menanggapi tulisan tentang neolib tersebut, penulis cukup terkesan dengan argumen saudara Elmer Simanjuntak a.k.a Ucup yang mengatakan bahwa tidak ada paham neolib murni. Apalagi di negara ini. Mungkin benar bahwa ada kadar pemakaian asas ekonomi ini, berdasarkan skala 1 sampai 10, menurut saudara ucup Indonesia masuk kategori 5 atau 6. Bila angka tersebut diinterpretasi, maka hasilnya adalah Standar lah. Sosialis engga, neolib juga engga.

SBY dan Boediono yang merupakan target utama penyebaran isu neolib tersebut, dengan tegas menolak bahwa mereka tidak akan memakai sistem neolib. Mereka bukanlah antek neolib. Sah-sah saja sebenarnya mereka berkata demikian. Tapi bukti tidak berkata demikian.

Seperti apakah ciri-ciri negara yang menganut paham neolib?
Antara lain adalah sebagai berikut:
- negara mengurangi proteksi, salah satu caranya pencabutan subsidi
- adanya privatisasi unit usaha pemerintah, Bank, BUMN, bahkan rumah sakit.
- Dibukanya seluas-luasnya pasar dalam negeri kepada asing. Bahkan sampai institusi pendidikan.
- Penggantungan pertumbuhan ekonomi pada penumpukkan kapital.
Dari sekian hal yang merupakan ciri dari paham neolib, yang mana yang tidak dilakukan SBY? SBY dan JK tentunya. Khan JK wakilnya.

Ah, itu khan cuma isu yang dihembuskan lawan politik untuk mengganjal langkah SBY menuju istana. Bila hal ini dijadikan alasan, berarti saya berpendapat bahwa yang melontarkan alasan ini berpendapat bahwa neolib adalah paham yang buruk, dan tidak seharusnya digunakan di negara kita. Jadi, kita sependapat dong kalo SBY salah. Ops, terlalu berlebihan kayaknya kalau bilang SBY salah. Toh dia merasa dia sudah berbuat yang terbaik buat rakyat Indonesia. Ya sudah, tak perlu kita perbincangkan lagi soal neolib itu. Sekarang kita bicarakan hal yang lebih konkret dan nyata.

Sebenarnya tulisan ini mengarah kepada pembahasan mengenai Pilpres 2009. Penulis mengajak kawan-kawan semua untuk secara kritis memperhitungkan siapa yang akan kawan-kawan pilih saat pemilu nanti. Ingat, 5 detik berpengaruh untuk 5 tahun perjalanan bangsa ini kedepannya.

Kita sebagai mahasiswa tentu pernah merasakan suasana pemilihan pemimpin macam ini, walaupun dengan skala yang lebih kecil tentunya, yaitu Pemilihan ketua BEM Fakultas maupun BEM UI. Coba ingat kembali, hal apa yang akan kita perhitungkan dalam menentukan pilihan.

Ada yang mungkin berdasarkan tampang. (Pilih yang jidatnya kapalan, pasti lebih alim)
Ada yang berdasarkan kedekatan emosional. (Karena sekampus, atau sekosan)
Ada yang berdasarkan ikatan primordial (Sama-sama suku minang misalnya)
Ada yang karena utang budi. (pernah ditraktir pas lagi keabisan jatah uang makan)
Atau alasan ada-ada saja yang lainnya.
Nah, kawan-kawan termasuk yang mana?

Kalau penulis saat pemilihan KaBEM UI, memilih berdasakan tampang. Yang jidatnya kapalan, penulis tidak pilih. Saat KaBEM F. Psi UI, penulis memilih berdasarkan kedekatan emosional. Calonnya merupakan teman curhat penulis. Hehehe.
Lalu, berdasarkan apa kita akan memilih Presiden nanti?

Berdasarkan tampang, jelas pasti udah dipermak semua.
Kedekatan emosional enggak ada. Pernah ketemu juga belom.
Ikatan primordial? Semuanya ada jawa-jawanya.
Utang budi alhamdulillah penulis ga punya.
Jadi berdasarkan apa dong?
Memangnya bisa menyamakan kriteria memilih presiden RI dengan KaBEM UI?
Tentu bisa. Ada satu hal yang sebenarnya bisa jadi patokan. Yang berlaku untuk kedua pemilihan tersebut.

Masih inget waktu jaman kampanye KaBEM kemaren? Masing2 pasangan kandidiat memaparkan Visi dan Misi yang dimiliki agar bisa dinilai oleh pemilih dan dapat dijadikan patokan untuk menentukan pilihan. Begitu juga untuk pemilihan presiden. Seharusnya, kriteria ini lah yang dijadikan landasan dalam menentukan pilihan saat Pilres nanti.

Jangan sampai kita tertipu lagi oleh janji manis yang ditawarkan politisi, yang dapat dilupakan begitu saja tanpa dapat diminta pertanggungjawabannya. Masakah kita mau mengulangi kesalahan yang sama lagi. Tertipu, dan dibohongi, akhirnya hanya bisa gigit jari. Kalo masih berstatus mahasiswa agak lebih enak sedikit. Karena bisa demo dan aksi.

Saat mau milih nanti, pahami dengan benar Visi dan Misi tiap pasangan calon. Perubahan apa yang ditawarkan. Bagaimana mewujudkannya. Dan kalau perlu cari tahu akan melibatkan siapa saja. Jangan tertipu dengan janji akan menjalankan pemerintahan dengan baik. Itumah sebuah keniscayaan. Kalau ga bisa menjalankan pemerintahan dengan baik, masakah berani-beraninya nyalon. Terlebih lagi jangan terbuai janji manis yang menawarkan hal muluk tanpa kejelasan mengenai caranya. Jargon yang sering dipakai (terutama dalam Pileg kemarin) adalah
”Saya akan memperjuangkan Nasib rakyat”.
Woi.. rakyat yang mana? Bagaimana caranya?
Atau janji heboh yang sama sekali ga bisa dipegang
”Saya akan menjadikan Indonesia lebih baik”
Nah, yang lebih baik yang kayak gimana coba?
Pantes aja para politisi itu bisa berkelit dengan mudahnya karena janjinya ga bisa diukur. Bisa aja khan dia ngeklaim pertumbuhan ekonomi 0,00000001 persen itu lebih baik.
Atau terbukanya lapangan pekerjaan untuk 10 orang adalah bukti Indonesia yang lebih baik. Ga salah dong dia?!

Juga jangan tertipu dengan pencitraan yang terlalu positif. Orang berpengaruh di asia lah. Kepala keluarga yang baik kek. Berperilaku santun. Hal itu bukan hal penting yang dapat dijadikan tolok ukur. Memang latar belakang perlu diketahui dan dapat meramalkan perilaku seseorang di masa depan. Tapi ingat. Hal itu tidak bisa dijadikan patokan saat meminta pertanggungjawaban. Yang namanya evaluasi tuh adalah kesenjangan antara rencana dan aktualisasi rencana. Kalo rencananya tidak dipaparkan dengan jelas, dengan patokan apa kita mengevaluasinya.

Contoh gampang.
Rencana : pergi ke sukabumi

Aktualisasi : sampai di sukabumi dalam waktu tujuh hari, dengan pakaian sudah compang-camping, bersimbah peluh, dan darah.

Evaluasi : mission accomplished.

Beda dengan
Rencana :
pergi ke sukabumi hari jum’at jam 5 dari jakarta. naik mobil bareng papa-mama. Diperkirakan sampai jam 9. sabtu jalan-jalan ke pelabuhan ratu. Terus pulang minggu pagi. Sampe jakarta jam 12 paling lama.

Aktualisasi :
berangkat baru jam 7. nunggu papa pulang kantor, terus maghrib dulu sekalian di jama’ isya. Sampe sukabumi udah jam 12 malem. Karena kecapekan, jalan2 ke pelabuhan ratunya jadi agak siang. Tapi pulang tetep minggu pagi, dan sampe jakarta jam 11.30

Evaluasi :
silahkan lakukan sendiri. Kalau rencana dan aktualisasi jelas begini. Anak kecil juga bisa evaluasi. Dan yang pasti, ga perlu takut dibohongi.

Jadi, kalau mau pilih presiden nanti liat yang Visi dan Misi nya jelas dan terukur. Tanpa melihat latar belakangnya seperti apa, kita dapat dengan mudah mengkritisi dan mengevaluasi. Jangan seperti saat ini, mau demo dan aksi harus cari-cari isu yang kira-kira dapat simpati rakyat. Kalau jelas visi dan misi capresnya khan lebih enak demonya. Kayak gini misalnya.......

Di sebuah bundaharan sebuah Hotel yang namanya sesuai dengan nama Negara tersebut, sekumpulan mahasiswa yang berasal dari Universitas yang memiliki nama yang juga sama dengan nama Negara tersebut, sedang melakukan aksi demonstrasi, karena presiden terpilih yang sudah menjabat selama tiga tahun ini melanggar program kerja poin 234 ayat 5 mengenai penyikapan terhadap Tenaga Kerja Indonesia.

Nah, kalo demonya kayak gini khan lebih keren gituh. Hehehehe
Ga bisa berkelit khan yang didemonya.

Wednesday, April 29, 2009

Konsekuensi Logis Keempatbelas


Pembiaran Mengakibatkan Kematian

Pada koran Seputar Indonesia terbitan hari Minggu tanggal 26 April 2009, saya membaca sebuah berita yang cukup mengiris hati. Seorang bocah berusia 11 tahun nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri dengan ikat pinggangnya di lemari pakaian di dalam kamarnya. Sayangnya saya lupa nama bocah tersebut, dan di mana pastinya bocah tersebut tinggal, yang saya ingat hanya asal bocah tersebut adalah negara bagian Virginia. Dan yang paling saya ingat dan selalu terngiang di kepala saya adalah kesaksian seorang teman korban yang menyatakan alasan bocah tersebut bunuh diri.

Dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa bocah tersebut selalu diejek oleh teman-teman sekelas, bahkan satu sekolah, bahwa dia adalah seorang gay dan masih perawan. Hal ini dikarenakan si bocah berasal dari Virginia. Kita mungkin bingung untuk mencari hubungan antara daerah asal dengan perilaku seksual seseorang. Namun, bagi teman-teman sekolah bocah tersebut, hal itu bisa menjadi alasan yang cukup untuk mengejek dan melecehkan si bocah.

Bagi teman-teman mahasiswa Psikologi yang membaca kisah ini, mungkin yang terlintas pertama kali adalah ingin mengetahui hubungan bocah tersebut dengan keluarganya. Keluarga sebagai social support utama bagi bocah tersebut tentunya dianggap tidak berhasil melaksanakan perannya, sehingga mengakibatkan bocah tersebut bunuh diri. Namun, kenyataannya, bocah tersebut berasal dari keluarga yang harmonis. Ibu dan ayah yang sangat mencintai anaknya. Si bocah sering kali mengeluh dan mengadu kepada ibunya mengenai perlakuan yang diterimanya di sekolah. Sang ibu pun telah berupaya untuk membantu si bocah dengan cara mengirim surat kepada pihak sekolah, bahkan menemui langsung pejabat sekolah tersebut untuk menangani masalah ini.

Bila tidak ada masalah dalam keluarga, yang patut ditanyakan berikutnya adalah peran pihak sekolah sebagai social support lain yang bertanggung jawab terhadap siswanya selama siswa tersebut berada di sekolah. Menurut perkiraan saya, hal inilah yang akan menjadi titik sorot mahasiswa psikologi yang lain dalam menyikapi kasus ini. Tolong benarkan jika saya salah. Menurut laporan dari sang ibu, segala bentuk laporan kepada pihak sekolah tidak mendapat tanggapan yang berarti. Sekolah terkesan membiarkan hal tersebut terjadi. Entah karena tidak mampu untuk menyelesaikannya, atau memang tidak mau. Yang jelas, peran sekolah sebagai social support tidak dilaksanakan. Oke, penyebab pertama sudah dapat kita perkiraan. Lalu kira-kira apa yang lagi yang bisa menjadi faktor pendorong si bocah untuk bunuh diri.

Sekali lagi saya mencoba untuk menebak jalan pikiran tema-teman mahasiswa psikologi dalam hal ini. Menurut perkiraan saya, teman-teman akan menanyakan mengenai hubungan bocah tersebut dengan teman-temannya. Apakah perkiraan saya ini benar atau salah, hanya teman-teman yang tahu. Menurut pengakuan dari salah seorang (atau mungkin satu-satunya) teman dekat si bocah yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, si bocah ini memang tidak mempunyai teman dekat atau kelompok teman (peer). Dari hal ini kita dapat memperkirakan bahwa si bocah tidak memiliki dukungan sosial dari teman-teman sebayanya. Masih menurut penuturan teman bocah tersebut, hampir semua siswa sekolah itu selalu mengejek dan melecehkan si bocah.

Selanjutnya teman si bocah tersebut menuturkan seperti ini. Tolong disimak dan tolong dipahami. “teman saya tersebut bilang bahwa dia sudah lelah dengan semua ini. Dia sudah melakukan semua cara agar dirinya tidak lagi diejek dan dilecehkan. Dia sudah mengadu kepada semuanya. Dan dia lelah karena tidak ada yang MEMBANTUNYA, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri”. Maaf bila saya terkesan me-leading teman-teman dalam menyimak dan memahami penuturan teman si bocah tersebut. Saya memang sengaja menulis salah satu kata dengan HURUF KAPITAL, karena hal itulah yang menjadi inti dari tulisan ini.

Saya ingin menggugat semua orang yang melakukan hal buruk kepada bocah tersebut. Orang-orang yang melecehkan dan mengejek si bocah. Namun hal itu tidak dapat saya lakukan, hal paling mungkin saya lakukan adalah mengutuki mereka dalam hati dan doa. Oleh karena itu saya mencoba untuk melakukan hal yang masih bisa saya lakukan. Saya ingin menggugah semua orang yang membaca tulisan ini tentang arti pentingnya sebuah BANTUAN. Tak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali orang di dunia ini yang membutuhkan pertolongan dari orang lain. Kalau DUNIA dianggap terlalu luas, kita persempit menjadi ruang lingkup kehidupan masing-masing dari kita. Coba tengok ke kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah, saya yakin, setidaknya ada satu orang yang anda rasa membutuhkan bantuan anda. Bahkan dalam situasi dan kondisi sekarang ini, saya yakin lima orang merupakan jumlah minimal yang mungkin anda temui. Tolong betulkan bila saya salah.

Kembali ke kasus si bocah tersebut, saya sangat yakin bahwa ada satu atau dua orang setidaknya yang merasa bahwa si bocah perlu dibantu. Kita singkirkan orang tua dan pihak sekolah dalam hal ini, kita fokus kepada teman sekolah si bocah saja. Saya yakin tidak SEMUA siswa di sekolah tersebut setuju dengan perlakuan yang diberikan kepada si bocah. Tapi mungkin mereka lebih memilih untuk diam. Terlepas dari alasan apapun, kediaman atau pembiaran ini lah yang menjadi penyebab utama si bocah akhirnya nekat untuk bunuh diri.

Coba lihat kembali kesaksian dari teman si bocah tersebut, ada penekanan pada kata MEMBANTU. Bantuan yang paling diharapkan oleh si bocah adalah bantuan yang dapat membuat dirinya tidak lagi diejek dan dilecehkan. Bantuan semacam ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam situasi pelecehan tersebut. Yang paling mungkin adalah teman-teman si bocah itu sendiri. Karena ejekan dan pelecehan tidak mungkin dilakukan bila ada guru atau orang tua si bocah. Jadi, kesimpulan bahwa pembiaran yang dilakukan oleh teman-teman yang lain merupakan penyebab utama faktor pendorong si bocah bunuh diri adalah benar adanya.

Bayngkan, tindakan sederhana berupa pembiaran ini mengakibatkan hilangnya satu nyawa manusia yang masih lugu dan polos. Sekali lagi saya menggugah teman-teman yang membaca tulisan ini, bila anda berada dapat situasi serupa, saya menyarankan anda untuk tidak membiarkan hal tersebut. Karena dapat berakibat fatal berupa hilangnya nyawa. Berikanlah bantuan semaksimal yang anda bisa. Bila anda tidak dapat membantu dengan perbuatan langsung, anda dapat membantu dengan menyatakan pendapat anda. Bila kedua hal tersebut tidak dapat anda lakukan, tunjukkanlah sikap bahwa anda menolak hal buruk itu. Dan bila hal itu tidak bisa anda lakukan juga, cobalah minta bantuan dari pihak lain yang anda rasa dapat bertindak untuk membantu korban.

Saya teringat sebuah tulisan seorang teman beberapa waktu lalu. Dia mendapati dirinya berada pada situasi yang mengarah pada tindakan kejahatan perampokan di bis yang dia tumpangi. Bahkan bukan hanya dia seorang, tapi seluruh penumpang bis itu juga terancam akan menjadi korban. Menyadari hal tersebut teman yang saya ceritakan ini langsung turun dari bis dengan maksud menyelamatkan diri. Sebuah tindakan berani mengingat bis tersebut sedang berjalan. Tapi yang sangat disayangkan adalah tindakan selanjutnya dari teman saya tersebut. Karena merasa dirinya sudah aman, dia langsung melanjutkan perjalanan pulang. Yang jadi pertanyaan saya adalah bagaimana nasib penumpang bis lainnya. Saya memaklumi ketidakmampuan teman saya pribadi untuk mencegah hal tersebut, namun saya rasa teman saya itu masih bisa melakukan tindakan lain yaitu melaporkan hal tersebut kepada polisi. Setidaknya hal itu dapat meyelamatkan penumpang lain dalam bis tersebut.

Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya bagaimana nasib penumpang lain dalam bis tersebut. Semoga saja mereka setidaknya selamat. Semoga tidak ada nyawa lain yang terbuang sia-sia karena sikap kita yang membiarkan hal buruk terjadi. Semoga saja.

Monday, April 27, 2009

Konsekuensi Logis Ketigabelas

First Come First Serve




Janji adalah hutang. Sebuah pepatah lama, tapi akan berlaku sepanjang masa. Layaknya orang berhutang, pasti akan ada pihak yang menagih hutang tersebut. Bila hutang tak dibayar, maka sanksi pasti akan diberikan. Bentuk sanksi bisa bermacam-macam. Mulai dari sanksi moral, hingga sanksi material. Tapi tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut mengenai masalah sanksi. Tulisan ini akan berfokus pada masalah janji.

Dalam hidup, setiap manusia pasti tidak akan terlepas dari takdir pertemuan. Meminjam istilah yang lebih sering digunakan yaitu berjodoh. Istilah ini sudah mengalami penyempitan makna sedemikian rupa hingga terlupakan makna aslinya. Jodoh adalah takdir pertemuan antara manusia dengan manusia lainnya. Jodoh bukan hanya bermakna sebagai hal yang merujuk pada pertemuan antara sepasang kekasih. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kata jodoh memang mengalami penyempitan makna. Tapi, kita tidak akan membahas lebih jauh masalah jodoh, perjodohan, dijodohkan, menjodohkan, dan kata-kata turunan dari jodoh lainnya. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tulisan ini akan membahas mengenai janji. Dan kita akan fokus dalam hal itu.

Sedikit menyinggung masalah jodoh, setiap manusia pasti akan berjodoh dengan manusia lainnya. Untuk memudahkan pemahaman, kita tinggalkan istilah jodoh. Dalam tulisan selanjutnya, kata tersebut akan digantikan dengan pertemuan. Pertemuan antar manusia dapat dikategorikan menjadi pertemuan antar orang per-orang dan antara seseorang dengan sebuah kelompok, atau pertemuan antara kelompok dengan kelompok lainnya. Istilah untuk pertemuan pun bermacam-macam. Kencan, rapat, meeting, diskusi, hearing, dan masih banyak istilah lainnya. Namun saya ingatkan, tulisan ini tidak akan membahas mengenai masalah pertemuan, tapi mengenai janji. Jadi, mari kita berusaha fokus pada masalah janji tersebut.

Pertemuan-pertemuan yang disebutkan di paragraf sebelum ini, takkan terjadi tanpa ada kesepakatan antar para pihak yang ingin bertemu. Kesepakatan itu ditentukan dengan maksud agar pertemuan dapat terjadi. Perlu disadari bahwa masing-masing pihak yang merencanakan untuk bertemu tersebut pasti memiliki urusan-urusan lain yang sama penting, atau bahkan lebih penting dari pertemuan yang dimaksudkan. Oleh karena itu kesepakatan mengenai kapan dan dimana pertemuan dilangsungkan perlu dibuat. Hal ini dengan maksud agar pertemuan tersebut tidak mengganggu pertemuan yang lain. Jadi para pihak tetap dapat menjadi produktif. Kesepakatan tersebut dapat dibuat dengan berbagai macam cara. Bisa saja melalui sms, telepon, email, facebook, twitter, dan macam-macam cara lainnya. Sebaiknya anda tidak berharap akan mendapatkan penjelasan mengenai macam-macam cara kesepakatan tersebut dibuat, karena Anda tidak akan mendapatkan hal itu disini. Sekali lagi saya ingatkan, tulisan ini membahas mengenai janji, jadi saya harapkan kerjasama Anda untuk mewujudkan hal tersebut.

Kesanggupan seseorang untuk menepati kesepakatan yang telah dibuat itulah yang disebut janji. Seperti sudah saya katakan, tulisan ini akan membahas masalah janji, jadi jangan kaget saat tulisan ini sudah membahas mengenai masalah janji. Kembali ke fokus bahasan. Janji yang sudah dibuat tersebut, sudah seharusnya dipenuhi. Karena bila tidak, maka akan ada sanksi yang akan kita terima. Seperti yang saya sebutkan pada paragraf pertama -bila lupa silahkan baca kembali. Namun, dalam situasi dan kondisi nyata, kita tidak hanya akan membuat sebuah janji. Akan ada janji-janji lain yang kita buat. Baik dengan pihak yang sama, ataupun dengan pihak yang lainnya. Masalah timbul saat sebuah janji berpotensi untuk membuat kita melanggar janji yang lain. Apapaun alasannya, pelanggaran sebuah janji pasti akan menuai sanksi. Bentuknya sanksinya seperti apa, lihat kembali paragraf pertama.

Potensi terjadinya janji yang tumpah tindih tersebut harus diminimalisir, kalau perlu dihilangkan sama sekali. Hal itu mungkin dilakukan, dan tulisan ini dimasudkan untuk memberitahukan bagaimana melakukan hal tersebut. Prisnsip utama yang harus dipegang dalam pembuatan sebuah janji adalah First Come, First Serve. Maksud dari prinsip ini adalah janji yang lebih dahulu dibuat harus diprioritaskan. Bila ada janji lain yang dibuat setelah janji tersebut, maka tidak akan mengambil waktu yang bersamaan. Sehingga akan meminimalisir potensi janji yang bentrok. Hal yang sangat sederhana sebenarnya. Bahkan mungkin sudah diketahui oleh semua. Namun pada kenyataannya hal ini sangat sulit dilakukan.

Kita seharusnya mengkategorikan janji menjadi 4 kategori. Penting-Mendesak, Penting-Tidak Mendesak, Tidak Penting-Mendesak, dan Tidak Penting-Tidak Mendesak. Seharusnya, janji yang telah lebih dahulu dibuat hanya dapat dibatalkan bila janji yang akan dibuat tersebut termasuk kategori Penting-Mendesak dan Tidak Penting-Mendesak. Namun kita sering kali tega membatalkan janji hanya karena janji baru yang akan dibuat baru termasuk kategori Penting-Tidak Mendesak dan Tidak Penting-Tidak Mendesak. Bayangkan perasaan orang yang telah anda janjikan bila anda membatalkan janji hanya karena janji lain yang Penting-Tidak Mendesak. Contohnya saat anda janji untuk bertemu jam 10 pagi, namun anda membatalkan hal tersebut dengan alasan anda harus makan. Kita tahu makan penting, tapi bukanlah sebuah hal yang mendesak. Toh masih bisa dilakukan saat makan siang. Kecuali bila anda penderita maag kronis, yang bila tidak makan maka akan menderita sakit berkepanjangan, maka alasan makan termasuk kategori Penting-Mendesak.

Terlebih lagi bila anda harus membatalkan janji yang lebih dulu anda buat dengan rekan bisnis anda hanya karena anda ada janji baru untuk jalan bersama teman-teman se genk anda. Janji yang termasuk kategori Tidak Penting-Tidak Mendesak. Bayangkan bila anda berada di posisi rekan bisnis anda tersebut, bagaimana perasaan anda? Karena tulisan ini membahas masalah janji, silahkan anda jawab sendiri pertanyaan yang bersifat retoris tersebut.

Monday, March 16, 2009

Konsekuensi Logis Keduabelas


Alternatif cara menggagalkan UU BHP

Hari kamis tanggal 12 maret 2009 temen2 dari UI melakukan aksi demonstrasi ke Mahkamah Agung sebagai bentuk aksi solidaritas bagi temen2 ICW yang melakukan judicial review UU BHP dengan tuntutan mencabut UU BHP. sebuah aksi yang cukup jelas isunya, pun msih disayangkan kurangnya propaganda mengenai hal itu. tapi bukan masalah aksi yang ingin dibahas dalam tulisan ini. setiap orang berhak untuk menyuarakan pendapatnya dalam alam demokrasi ini. setiap cara pun boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan hukum positif yang berlaku di negara ini. oleh karena itulah saya disini mencoba memberikan alternatif cara bagi temen-temen yang mau mencabut UU BHP dari daftar perundang-undangan yang berlaku di indonesia.

Masih dalam konteks pemilu. tanggal 9 april nanti kita akan melaksanakan hajatan akbar negara yang menentukan jalannya negara selama lima tahun kedepan. menilik paradigma sebab-akibat, semua hal pasti disebabkan oleh sesuatu. dan semua hal juga mengakibatkan sesuatu juga. dalam konteks pemilu, siapa-siapa yang kita pilih akan menentukan seperti apa negara kan dijalankan, UU apa saja yang akan dibuat, dan tentu saja UU apa saja yang akan direvisi atau bahkan dicabut.

Berhubung belum ada yang terpilih dan para caleg, dan nantinya capres, masih membutuhkan dukungan berupa suara. saya rasa mahasiswa mempunyai "bargain power" yang cukup besar untuk tawar-menawar dengan para caleg dan atau capres. alternatif cara yang ditawarkan adalah tawarkan kepada caleg dan atau capres dukungan suara mahasiswa dengan adanya ontrak politik hal-hal yang jadi perjuangan mahasiswa sekarang. tidak seperti sekarang, mahasiswa dengan arogannya meminta kontrak politik tanpa adanya kontra prestasi kepada caleg dan capres tersebut.sudah tidak zamannya lagi mahasiswa berdiri tanpa memihak. kita dibekali pemahaman dan pendidikan yang lebih tinggi dari kebanyakan pemuda indonesia lainnya. kenapa tidak kita manfaatkan hal itu. apa susahnya mahasiswa menyatakan dukungan terhadap satu pihak, tentunya dengan alasan yang sesuai dengan pemahaman dan pemikiran kita yang katanya lebih intelek. apa kita takut untuk bertanggung jawab atas apa-apa yang kita lakukan?

tapi, sepertinya alternatif cara yang saya ajukan ini tidak seperti alternatif pada umumnya, yang biasanya menawarkan cara yang lebih mudah. cari ini memang lebih sulit dibandingkan cara yang selama ini teman-teman mahasiswa lakukan. apalagi dengan kondisi dalam tubuh mahasiswa yang banyak faksi dan pertentangan, alternatif cara yang saya ajukan sepertinya sangat tidak mungkin untuk dilaksanakan. sekarang saya berfikir, merenung, dan membayangkan, kapan sekiranya alternatif cara tersebut dapat dijalankan???

Konsekuensi Logis Kesebelas


Mau benerin Negara? ikut PEMILU

berhubung momen pemilu, mau ikutan sumbang saran sekalian ngasih pendapat. Tergelitik juga untuk nulis ini karena banyak banget pemuda-pemudi yang antipati dan ga mau tahu soal pemilu. sewaktu gw tanya kenapa, jawabnya cuma karena ga mau aja. atawa ada sedikit yang ngasih jawaban yang logis tapi banyak banget fallacies-nya. alesannya simple banget.

"mau ikut pemilu apa ga, ga akan ngerubah apa-apa. liat aja kondisi sekarang, mana ada yang berubah?"

apa iyah?
ini kesalahan berpikir pertama.. boi.. pemilu itu dilakukan untuk memilih siapa-siapa yang berhak untuk memegang amanah dan tanggung jawab untuk ngelola pemerintahan dan kekayaan negara. siapa yang lo pilih, berhak ngapa2in negara ini. kalo lo milih berarti lo ikut bertanggung jawab terhadap jalannya negara. secara gituh, dia-dia orang, lo yang milih.
nah, kalo lo ga ikut milih, bukan berarti lo ga bertanggung jawab. justru tanggung jawab lo makin besar. contohnya gini. ada seorang calon presiden yang nyebelin banget. ne calon punya hobi pedofil, agak nyeleneh, suka bertindak eksentrik, dan lain-lain lah.. calon lainnya ga bener-bener banget sih. ngaco juga tapi ga segitu parahnya. terus karena lo ngeliat ga ada yang beres, terus jadinya ga ikut milih. parahnya, semua orang yang setipe sama lo ngelakuin hal yang sama juga. dan lebih parah lagi, si calon yang pedofil ituh punya banyak uang dan pengaruh sehingga dia dapat membeli sura bagi kemenangan dia. jadinya tuh orang kepilih deh jadi presiden. apa iyah akhirnya lo ga bertanggung jawab???
jelas-jelas sangat bertanggung jawab karena dengan tidak memilih membuat si calon yang pedofil punya hak untuk mimpin negara dan pemerintahan. bisa aja khan dia orang dengan senag hati nyuli-nyulikin anak perempuan yang masih kecil dengan aparat yang dia punya.

yah... mungkin contohnya terlalu ekstrim, tapi dengan konteks seperti apapun hal ini berlaku. kondisi negara kita sekarang ditentukan oleh orang-orang yang berkesempatan untuk memimpin jalannya negara. perlu disadari maju mundurnya negara tuh tanggung jawab semua warga negara. pemerintah itu cuma sebagian kecil dari pihak yang bertanggung jawab. tapi, kecil-kecil cabe rawit tuh. biar dikit tapi menentukan hajat hidup orang banyak. jadi, gunakanlah hak pilihmu. jangan menjadi orang yang mau lari dari tanggung jawab.

nah, kalo masih bingung sama siapa yang bakalan lo pilih. gampang banget kok. ketik aja kata kunci daftar calon legislatif di google. ga sampe dua detik juga langsung keluar hasilnya. jangan juga males dan maunya yang instan ajah. cari dan pelajari siapa-siapa yang berhak menerima amanah dan tanggung jawab dari kita, untuk menjalankan fungsi kenegaraan.

yah, sebenernya golput atau tidak memang pilihan masing-masing orang. oleh karena itu gw bikin tulisan ini dengan tujuan menjadi bahan pemikiran kisanak-kisanak sekalian.

Friday, February 6, 2009

Konsekuensi Logis Kesepuluh

Kalau mengendarai motor dengan kecepatan lebih kurang enam puluh kilometer per jam selama tiga puluh menit sambil membungkuk dan menundukkan badan sehingga menempel pada setang karena menahan perih dan sakit di lambung disebabkan oleh serangan maag akibat terlambat makan sekitar 12 jam maka jangan salahkan bila orang yang melihat menganggap saya sedang bergaya layaknya pembalap beneran.

Padahal ga ada maksud demikian.

Gw harap kalimatnya ga kepanjangan ^_^